Senin, 16 Desember 2019

Dilema Dalan Rasa

Dilema Dalam Rasa

Angin sore meniup pelan kerudung dua perempuan yang duduk bersebelahan pada tepian pantai. Keduanya sibuk berjibaku dengan alur pikiran masing-masing, begitu seriusnya nampak wajah keduanya. “Beberapa hari lagi pernikahanmu” suara perempuan berkerudung coklat bercorak memecah imajinasi perempuan di sebelahnya. Ia menengok wajah sipenanya tadi. “Benarkah ? ku bahkan hampir melupakannya” ujarnya dan kembali menatap ombak yang saling berkejaran. “Jangan begitu fat, kamu seolah bukan ifat yang ku kenal” timpal perempuan berkerudung coklat bercorak bernama iren. “Apa baiknya aku batalkan saja ?” tanya ifat dan menatap kembali wajah sahabatnya. “Kamu gila ? kalian sudah menentukan tanggal pernikahan” suara iren mulai meninggi, dia menyesal mengawali pembicaraan tadi dengan mengungkit masalah pernikahan sahabatnya. “Aku setuju, jika kau menemukan celah untuk membatalkannya” sambung iren dengan wajah yang mulai melembut. “Tidak, kata ayahku tidak” iren yang mendengar jawaban sahabatnya, hanya memamerkan wajah tak mengerti.”Hhhh, aku rasa kamu mengerti perkataanku iiren” jawab ifat dengan suara penuh penekanan saat menyebut nama sahabatnya yang tengah menunggu jawaban darinya. “Aaaaa, jadi aku mengerti” ujar iren sambil memandang wajah temannya penuh selidik. Ifat kini berganti mimik wajah dengan iren, ia menatap iren dengan wajah ingin penjelasan. “Jadi... kamu tak ingin menikah dengannya hanya karena pria lain, begituu ?” iren mulai memperlihatkan wajah serius pada ifat, ia menuntut pengakuan dari perempuan berkerudung pink polos ini. “Kau sahabatku iren, tanpa mengiyakan kau sudah tau. “Aku mengakuinya ifat, jika pria yang kau sukai akh bukan, maksudku pria yang kau cintai adalah pria baik. Seorang hafidz dan yah dia begitu sempurna untuk dijadikan suami idaman, tapi... bukan berarti kau menolak lamaran pria lain yang juga tak kalah sholeh. Entah fat, adakalanya kehidupan kita terjadi berbeda jauh dari skenario yang kita buat dari awal” iren tersenyum memandang wajah ifat yang mulai kelihatan sedih, dan kemudian memeluk tubuh mungil sahabatnya. “Aku bingung iren, pikiranku akhir-akhir ini kacau. Aku bahkan ingin menyalahkan ayahku, tapi bukankah ini salah ? Zaid terlalu sempurna untuk ku terima iren, dia membuatku seolah tak ada apa-apanya dibandingkan dia” ifat mulai menangis. Benar, alasannya untuk tidak bisa menerima Zaid sebagai suaminya  karena pria itu terlalu baik untuknya. Dari keturunan keluarga yang dikenal baik dalam masalah ibadah. Bagi ifat, seharusnya pria itu melamar perempuan lain. Bukan dia, perempuan mahasiswa semester 4 yang masih haus-hausnya mengkaji Islam. 
Ifat adalah pribadi periang, tapi jadi pendiam ketika pria tak dikenalnya datang menemui kedua orang tuanya. Saat itu hari selasa, matahari lagi teriknya. Waktu menunjukkan hampir pukul 1 siang, tapi dosen yang mengajar di kelasnya ifat seolah masih betah berlama di depan mahasiswa yang dengan pikirannya masing-masing. Hingga kata penutup perkuliahan, menjadi kabar gembira para mahasiswa termasuk ifat didalamnya. Setelah perkuliahan, ia mulai berjalan ke parkiran. Mengamati satu-persatu motor yang terjejer rapi, dan akhirnya dia menemukan motor pink kesayangannya di sana. 20 menit dalam perjalanan ifat sampai di rumahnya. Turun dari motornya, dan berjalan memasuki rumah sederhana itu sambil mengucapkan salam. Sesaat setelah menutup kembali pintu rumah utamanya, langkah ifat terhenti. Pikirannya dipenuhi pertanyaan, ifat refleks membungkuk hormat dan tersenyum saat melihat ustadz terkenal akan kecerdasannya dan wibawa itu tengah duduk di sofa ruang tamu, bersama istrinya dan pria yang tak dikenalinya. Ifat hanya berani melihat pria itu dengan ekor matanya. Hingga suara ibunya menghentikan acara diam bin kebingungan yang melanda putri bungsunya. “Masuk ke kamar ifat ! kamu pasti lelah” perintah ibunya, ifatpun berjalan menuju kamarnya. Benar, ifat rindu tempat tidurnya saat ini. Ia beruntung, dosen tadi berlama ria saat dirinya sedang kedatangan tamu istimewa untuk seorang perempuan. Ifatpun membaringkan tubuh lelahnya, dan terlelap menuju alam mimpi tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. “Fat, bangun sayang !! ini sudah jam 5” suara ibunya memutus kabel ke alam mimpi ifat. Dia mengejapkan mata membiarkan kesadarannya memulih kembali. Setelah merasa baikan, dia bangun dari tidurnya. Didapati wajah teduh ibunya, memandang ke arahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. “tadi Ustadz Ibrahim, membicarakan masalah sekolah dengan ayah ? terus terus Ustadzah dan laki-laki itu ?”. “Ganti pakaianmu dulu nak, ibu dan ayah akan menunggumu di ruang tamu” ujar ibunya lalu pergi membiarkan anaknya yang mulai bingung. Setelah selesai dengan urusannya, ifat menemui kedua orang tuanya. Mendudukkan dirinya di sofa, dan menunggu sang ayah memulai pembicaraan. “Zaid, anak dari ustadz Ibrahim melamarmu ifat. Kau taukan nak, ayah dan ibu menginginkan menantu yang taat ibadah. Ayah akan ikhlas melepasmu, jika kau menikah dengan nak Zaid” ujar ayahnya dengan suara tegas. “Sebab ayah bisa tenang karena tugas ayah membinamu akan diteruskan oleh suamimu nanti. Ayah takkan memaksamu fat, tapi coba pikirkan baik-baik” lanjut ayahnya.
Ifat terus memikirkan perkataan ayahnya sore tadi, dia terdiam. Ifat begitu bingung untuk merespon perkataan ayahnya, hingga hanya anggukan yang diberikan. Sang ayah dan ibupun tersenyum lega, mengira sang anak bungsu menyetujuinya. “Alhamdulillah. Kata Ustadz Ibrahim jika kau menerima, lusa mereka akan datang kembali untuk melakukan proses ta’aruf” ujar ayahnya dengan senyum bahagia.
“Aku tau fat, bagi kamu Zaid adalah pria baik yang menurutmu tak pantas untukmu. Tapi, bukankah Zaid melakukan kebalikannya” iren mencoba menenangkan ifat, yang menangis dalam pelukannya. “Kau harus bersyukur fat, Istighfar terus” ifat melepaskan pelukannya dan menghapus jejak air mata dipipi cubbinya. “Terima kasih iren, aku mungkin harus belajar menerimanya” ifat kemudian berdiri dan memukul pelan gamisnya pinknya, membersihkannya dari pasir pantai. “Sudah mau magrib, ayo pulang” ajaknya pada iren, tapi iren menggelengkan kepalanya. “Kau duluan saja fat, aku masih ingin menikmati matahari tenggelam disini” ujar iren. “Baiklah” ifatpun mulai berjalan menjauhi tempat dimana iren duduk. Iren menatap punggung ifat, wajahnya berubah sedih. Tak ada yang tau perasaan apa yang dia pendam selama ini, termasuk sahabatnya sendiri. “Aku harus bahagia fat, walaupun sebenarnya sesak melihatmu akan menikah dengan Zaid. Aku tak boleh kecewa, karena Zaid hanya jatuh hati padamu” ujarnya dalam hati.
  Ifat memang tidak mengetahui, bahwa jauh sebelum Zaid melamar. Iren lebih dulu mengenal Zaid, dan jatuh cinta. Bagi iren, Zaid adalah sosok pria idamannya. Pria sholeh yang tak sengaja ia lihat, saat pergi menemui ayah ifat tempo dulu. Ayah ifat sahabatnya mengajar di pesantren Ustadz Ibrahim, dan Zaid termasuk dalam daftar guru disitu. Kebetulan tentu tidak, sebab daun jatuhpun itu termasuk takdir Allah. “Ayo iren” ajak ifat untuk masuk ke ruangan staf guru. “Aku takut fat, ku tunggu diluar saja yaa” tolaknya pelan. Ifatpun masuk ke dalam, menemui sang ayah. “Kenapa ifat lama sekali” gerutu iren pelan. Irenpun memberanikan diri, melihat ke dalam ruangan staf guru. Dan detik kemudian, tubuhnya tak bergerak. Matanya tak berkedip, jantungnya berdegup kencang. Di depannya nampak pria berwajah teduh sedang berjalan mendekatinya, dan melewati iren yang tengah bersemu merah. “Astaghfirullah” iren merutuki dirinya yang tiba-tiba kelepasan mengagumi seorang pria tak di kenal. “Kamu kenapa iren ?” suara ifat membuat dia berhenti menepuk-nepuk pipinya. “A anu itu, nyamuk hehehe” mendengar jawaban aneh dari sahabatnya, ifatpun tak ingin menjadikan hal begitu penting untuk ditanyakan kembali. “Maaf ya iren, agak lama tadi. Habis, ayahku juga lupa kunci rumah di taruh dimana” ujar ifat memberikan penjelasan kenapa dia lama tak kunjung keluar. Irenpun membalas dengan senyuman, seolah mengatakan tak apa berkat itu aku bertemu pria idamanku. Namun, iren tak tau saat itu juga ada yang jatuh cinta pada perempuan bernama ifat.
“Hhh...” terdengan suara helaan nafas iren berbaur dengan suara ombak lautan. Ces... air mata itupun jatuh dipipinya, iren menangis tak bersuara. “Menangislah iren, keluarkan apa yang selama kau tahan. Tak salah, jika air mata menjadi teman hati yang perlahan retak. Aku kuat fat, aku percaya skenario Allah” ujarnya dalam hati, iren mencoba menguatkan dirinya sendiri.